Kamis, 14 Mei 2009

just try to be filsuf...

Hidup kita bagaikan bilangan cacah
bilangan cacah = {0,1,2,3,4,5,….}
ekuivalensinya
0, melambangkan pada saat kita dilahirkan di dunia ini
umur kita kan bertambah terus
entah pada angka berapa kita kan berhenti
alias “back to the earth”

selain itu, bilangan cacah juga mengandung makna
"DOSA"
pada saat kita dilahirkan, kita manusia yg tak punya dosa
namun lama kelamaan
dosa kita semakin banyak teman
bahkan sampai tak terhingga
yaw gak?????

1 hal lagi yg penting
bilangan cacah adalah lambang nikmat Allah SWT yg diberikan kepada kita
nikmat Allah SWT itu tidak terhingga

renungkanlah!

sumber:Catatan Kinanti KanThie Rejeki(dengan sedikit perubahan)

Rabu, 06 Mei 2009

ELEGI MENGGAPAI ISI

Duniaku adalah sebuah perputaran. Dimensiku antara ruang dan waktu. Aku berada pada ruang ketiga dalam pembagian dimensi. Aku tak banyak cakap dalam persoalan ini, karena hanya kudapati diriku sebagai refleksi dari persekitaran para pendahulu. Aku bukanlah tempat menentukan nilai kebenaran. Aku bukanlah disjungsi, konjungsi, ataupun ingkaran. Aku bukanlah sinus, kosinus, ataupun tangen. Namun dapat kujelaskan diriku sebagai wujud ruang ketiga dalam pembagian dimensi. Aku memiliki jumlah, luas alas mendekati luas permukaan diriku. Aku memiliki tinggi. Aku memiliki jari – jari. Maka dapat pula kujelaskan hakekat diriku sebagai isi bagi diriku. Jumlah luas alas mendekati luas permukaan diriku. Dan jika kusebut r = jari – jari dan kunaikkan derajatnya dua kali lipat lalu kutambahkan sebagai pengalinya dan kudekatkan dengan phi, sehingga akan kudapati jumlah luas alas mendekati permukaan diriku. Lalu, aku menyebut diriku memiliki tinggi. Itupun berasal dari pendahuluku, yang mendekati jari – jari = r, sehingga kuperoleh hakekat isiku sebagai volume. Volume diriku sama dengan sepertiga dari perkalian jumlah alas dan tinggi. Sehingga engkau dapat mencetaknya dalam kertas buram, sehingga pencari ilmu akan lebih mudah untuk membacanya. Jika aku menuangkan isi dari sepertiga kali luas alas kali tinggi sebanyak empat kali padaku, maka aku menemukan hakekatku. Karna tinggi yang kumiliki samadengan jari – jari itu. Dan hasil akhirku adalah . Inilah sebenar – benarnya diriku yang dapat kujelaskan padamu.